Rabu, 14 Maret 2012

Mengubur “Bonek” Yang Salah Kaprah


Apa arti sebuah nama. Demikian kata sastrawan kenamaan Inggris, William Shakespeare (1564-1616). Namun tidak bisa dipungkiri bahwa nama itu penting, dan nama sebutan (predikat) juga tak kalah pentingnya dan memiliki arti tersendiri.
Maka tidak keliru jika klub-klub sepak bola juga memiliki predikat, yang menunjukkan identitas kota/kabupaten, provinsi, dan negara. Sebutan untuk klub sepak bola tak jarang mengambil nama tokoh lokal yang pernah menjadi mitos atau legenda. Kesebelasan Deltras Sidoarjo misalnya, disebut “The Lobster”, sesuai lambang daerah, yaitu udang dan bandeng. Nama “Joko Tingkir” untuk kesebelasan Persela Lamongan mengingatkan tokoh yang mampu menaklukkan kerbau liar dan ratusan buaya. “Sakerah” untuk kesebelasan Persikapas (Pasuruan) mengingatkan tokoh Madura yang berani melawan Belanda. “Si Pitung” untuk Persitara (Jakarta Utara) diangkat dari tokoh Betawi penentang penjajah Belanda. “Laskar Ken Arok d/h Bledeg Biru untuk Persema (Malang), karena Walikota Malang Peni Suparto mengidolakan tokoh Ken Arok Raja Singasari (1222-1227).
Sedang predikat “Singo Edan” untuk kesebelasan Arema (Indonesia) sebenarnya tidak memiliki akar dengan sejarah dan asal-usul Kota Malang, karena si raja hutan tidak terdapat di Jawa ataupun Nusantara. Lambang singa berkaitan dengan berdirinya klub sepak bola Arema (Arek Malang) pada 11 Agustus 1987, yang bertepatan horoskop bintang leo = singa. Predikat klub sepak bola yang didirikan Mayjen TNI (Purn) Acub Zainal, akhirnya diterima supoter/pendukungnya dan disepakati sampai sekarang. Untuk mengesankan “garang” di lapangan, maka ditambahi “singa edan”. Predikat itu memang salah-kaprah, tetapi diterima publik. Sedang predikat kesebelasan Persatuan Sepak Bola Surabaya (Persebaya) sampai saat ini tampaknya masih menjadi perdebatan.
Sewaktu Dahlan Iskan menjabat manajer Persebaya, memunculkan nama “Green Force” ke permukaan, baik dalam pemberitaan media massa maupun dalam bentuk aksesoris, seperti ikat kepala, sal/selendang, kaos suporter, bendera, dan spanduk. Nama “Green Force” (Kekuatan Hijau) sesuai kostum kebanggaan/ciri khas Persebaya, yaitu warna hijau yang melambangkan keadilan.
Lantas sekarang muncul predikat lain, seperti “Bajul Ijo”. Tepatkah predikat itu? Jika “Bajul Ijo” sebagai sebutan Persebaya, lalu (ikan) sura-nya mana? Padahal sura dan baya merupakan satu kesatuan sebagai lambang Kota Surabaya yang keberadaannya, menurut sejarah, ditetapkan 31 Mei 1293. Ikan sura dan baya juga telah menjadi legenda dan menjadi ikon kota pahlawan. Sebaiknya predikat “Bajul Ijo” untuk Persebaya perlu dipertimbangkan. Pasalnya, bajul atawa buaya memiliki konotasi yang tidak sedap. Buaya darat misalnya, diidentikkan dengan penganggu perempuan. Beda dengan buaya keroncong yang tak lain dan bukan adalah seniman (musik) keroncong kawakan.
Untuk predikat Persebaya sebenarnya masih banyak nama lain yang bisa masuk nominasi. Di antaranya, Laskar Bung Tomo (sesuai dengan stadion Gelora Bung Tomo yang dibangun di Surabaya Barat), Laskar Kota Pahlawan, Laskar Hijau, Arek Suroboyo, Sura Ijo Bajul Ijo, dan lainnya.
Salah kaprah
Predikat bonekmania yang menjadi suporter Persebaya muncul dan menggegerkan jagad persepakbolaan nasional pada tahun 1989. Saat itu bonek mendukung kesebelasan Persebaya di Istora Senayan, Jakarta. Nama bonek mewarnai pemberitaan di suratkabar, karena berulah membuat keributan merusak stasiun kereta api dan menjarah warung nasi dan pedagang minuman tanpa bayar, dan ketika pulang dinaikkan kapal untuk menghindari amuk massa balasan.
Bonek merupakan kepanjangan dari bandha/bondo nekat (bermodal nekat/berani) yang merupakan bentukan dari kelompok masyarakat akar rumput. Kata bonek akhirnya menjadi perbendaharaan kata baru dalam Bahasa Indonesia. Bonek dan bonekmania identik dengan suporter fanatik Persebaya.
Tentang bonek, Budi Darma pernah menulis demikian: Jangan heran, bangsa ini mengantongi jatidiri yang tidak terpuji, yaitu jiwa bonek, sebuah nama untuk para suporter fanatik klub sepakbola yang modalnya hanya “bondo nekat”, yaitu tidak punya modal selain kenekatan liar dan merusak. Para bonek ini menonton sepakbola, kalau perlu dengan menempuh jarak ratusan kilometer, tanpa uang sama sekali, lalu mengamuk dan merampok untuk kepuasan diri dan kepentingan perut mereka sendiri, tentu saja, katanya, demi kepentingan klub pujaan mereka (Kompas, 14 Mei 2005).
Bonek yang dipopulerkan kalangan akar rumput, sebenarnya merupakan istilah salah-kaprah, yang dibiarkan, dan akhirnya menjadi kumpulan massa yang tak jarang bertindak radikal, tanpa berpikir rasional, tidak kendali, dan anarkis. Misalnya, dengan membakar mobil siaran salah satu stasiun televisi. Sampai awal tahun 2010 juga masih terjadi tindakan anarkis, baik dilakukan bonek maupun oleh kelompok masyarakat yang anti bonek.
Guru Besar Universitas Airlangga Prof Dr Hotman M. Siahaan dalam acara Titik Tengah yang ditayangkan Metro TV Biro Jatim, menilai perilaku bonek yang merusak fasilitas umum merupakan tindakan anarkis. Anarkisme inilah yang sebenarnya perlu diurai dan dicarikan pemecahannya, dan bukan dianggap sebagai perbuatan biasa atau kenakalan remaja. Sedang Wastomi Suhari Ketua Yayasan Suporter Surabaya menjelaskan bonekmania juga sebagai korban kekerasan.
Untuk meniadakan anarkisme suporter Persebaya, sebaiknya mengubur sebutan bonek dari predikat suporter. Pasalnya, bonek adalah sebutan yang salah-kaprah. Selain itu, suporter di mana pun tentu harus membeli tiket (karcis tanda masuk) untuk menonton pertandingan sepak bola dan mendukung klub kesayangannya. Menonton pertandingan tandang di luar Surabaya pun juga perlu duit untuk naik kereta api atau bus, kecuali nggandol truk. Jadi, tak ada yang gratis jika menonton pertandingan sepakbola di stadion manapun. Siapa tahu dengan mengubur sebutan bonek, suporter Persebaya mampu menjadi pendukung yang fanatik, tidak vandalis, dan bermartabat. Salam olahraga dan fair play di rumput hijau dan di ruang publik.
Artikel ini ayas dapat dari hasil googling yang sampek page 10 tetep ayas buka satu persatu, dan akhirnya dari web Harian Bhirawa ayas menemukan artikel mbois. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk berpikir 1.000.000.000 kali untuk memproklamirkan diri sebagai Kenob. Amieeeeeeeen………..
Salam Satoe Jiwa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar