Rabu, 14 Maret 2012

sejarah Bentroknya AREMANIA_BONEK (versi Bonek)

Sejarah Perseteruan Bonek dan AremA

Berdirinya Armada 86 hingga berevolusi menjadi PS Arema pada tahun 1987 membuat konflik semakin memanas. Dalam kompetisi Perserikatan, Persema dan Persebaya sudah memanaskan suhu konflik antar-suporter di Jawa Timur. Dengan hadirnya Arema yang mengikuti kompetisi Galatama, suhu itu kian memanas dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra Surabaya. Semifinal Galatama tahun 1992 yang mempertandingkan PS Arema Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya menghadirkan awalan baru sejarah konflik Aremania-Bonek. Arek Malang (saat itu belum bernama Aremania) membuat ulah di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka dalam 6 gerbong kereta api untuk menghindari kerusuhan dengan Bonek.

Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat panas Bonek yang ada di Surabaya. Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh Aremania pada tahun 1996 dengan melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di Stadion Tambaksari kala pertandingan Persebaya melawan Arema saat itu telah membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-apa dan harus menahan amarah mereka dengan cara menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta pengawalan ketat DANDIM kota Malang terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung pertahanan lawan sembari menunjukkan kesantunan Aremania dalam mendukung tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada kata damai dari Bonek kepada Aremania, dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan sekalipun.

Kejadian ini dibalas oleh Bonek di Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei 1998 dimana Aremania akan hadir dalam pertandingan Persikab Bandung vs Arema Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu rombongan Aremania yang berjumlah puluhan orang menaiki bus AC yang sudah disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di tengah jalan, belum jauh dari Stasiun Pasarsenen tiba-tiba bus yang ditumpangi Aremania dihujani batuan oleh Bonek. Untuk menghindari jatuhnya korban, rombongan Aremania langsung turun dari bus untuk melawan Bonek yang menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini mendapat applaus dari warga setempat, sehingga Bonek harus mundur meninggalkan area Stasiun Pasarsenen.

Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya menandatangi nota kesepakatan bahwa masing-masing kelompok suporter tidak akan hadir ke kandang lawan dalam laga yang mempertemukan Arema dan Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim bersama kedua pemimpinkelompok suporter tersebut ditandatangani di Kantor Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun 1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang mempertemukan kedua klub kesayangan masing-masing.

Tetapi nota kesepakatan itu tidak mampu meredam konflik keduanya. Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu pertandingan antara tuan rumah Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam pertandingan tersebut. Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu berterbangan dari luar stadion menyerang tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi ini membuat Arema meminta kepada panpel untuk mengamankan wilayah luar stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke lapangan, sementara di luar stadion justru terjadi gesekan antara Bonek dengan aparat. Turunnya Aremania ke lapangan pertandingan membuat pertandingan dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek membuat Aremania membantu aparat dengan memberikan lemparan balasan ke arah Bonek. Aremania pun harus dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk dari kepolisian.

Setelah pertandingan Persebaya Vs Arema. Sempat mikir2 tentang sejarah rivalitas ke dua klub tersebut. Meski ada kesalahan mengenai pemain persebaya yg mengalami kebutaan. Pemain tersebut bernama Nurkiman.Diketapel waktu bis Persebaya menuju Malang, ketika Persebaya akan menghadapi Persema pada laga Divisi Utama Perserikatan pada tahun 90-an.Arema saat itu bermain di galatama. Mmg secara waktu “biologis” Arema adalah adik Persema. Sementara Persebaya dibentuk th 1930, waktu jaman penjajahan Belanda.Dan termasuk salah satu pendiri PSSI (bersama Persija, Persib, Persis, PSIM dan PSM –bukan Persatuan Sepak Bola Makasar, tp Madiun).

Jangan salahkan bonek!!!

Sekali lagi kalau mau jujur, suporter mana sih di
Indonesia ini yang enggak mengamuk saat timnya kalah.
Jika mas anshor mengamati perkembangan supoter di
Indonesia, mungkin hanya Aremania yang paling
terorganisir dan terdidik secara kelompok. Meski kasus
jelek kelakuan Aremania tiap jumpa Persebaya tak akan
pernah lekang dari ingatan saya. Salah satu pemain
Persebaya pernah mengalami kebutaan pada matanya
akibat diketapel Aremania.

Namun melihat pertandingan kemarin, Aremania oleh
banyak kalangan pemerhati sepak bola sudah bisa tertib
saat Persebaya main di Kanjuruhan Malang, meski
lemparan botol minuman tetap ini. Ini yang saya paling
tidak mau dianggap “sudah tertib” jika masih ada
lemparan botol minuman. Lemparan apa pun bendanya
tetap bukan indikasi ketertiban suporter.

Celakanya di Eropa pun masih ada yang seperti itu.
Sampeyan tentu ingat saat Luis Figo pertama kali
berbaju Real Madrid setelah pindah dari Barcelona.
Begitu Madrid main di Camp Nou, ada lemparan kepala
babi saat Figo mengambil sepak pojok. Tapi apa yang
dilakukan otoritas La Liga, Barcelona dan suporternya
dihukum. Pertandingan berikutnya, hanya siutan dan
makian terhadap Figo. Tidak ada lagi lemparan kepala
babi ke lapangan.

Kembali ke Indonesia, semua suporter klub sepak bola
Divisi Utama, kampungan. Bukan hanya bonek saja.
Perbedaannya hanya pada militansi. Jika Sakerahmania
(suporter Persekabpas Kabupaten Pasuruan) hanya berani
bawa celurit di Stadion Pogar Bangil. Tapi di luar
pasuruan cuma bisa teriak-teriak. Bonek tidak seperti
itu. Justru penamaan Bonek menandakan mereka bukan
jago kandang. Mereka berani ngluruk hingga Jakarta.

Jika LA Mania (Suporter Persela Lamongan) berani main
pentung kalau nonton di Stadion Surajaya Lamongan.
Bonek bawa pentungan sepanjang jalan Surabaya, Gresik,
hingga Lamongan. Mau tahu suporter di luar Jawa. Mac’z
Man (kelompok suporter fanatik PSM) punya militansi
yang hampir sama dengan Bonek. Mereka bawa ketapel
berisi paku yang diracuni kala PSM main di Gelora Bung
Karno di babak delapan besar musim lalu (2005).

Tapi kalau sudah main di Stadion Mattoangin, jangankan
kendaraan pribadi, bus yang membawa pemain tim lawan
pun berani mereka bakar. Mau yang lebih gila lagi.
Datanglah sekali waktu liat pertandingan Persiba
Balikpapan di kandangnya. Pemain Arema punya
pengalaman buruk dengan kelakukan supporter dan
pengurus Persiba. Pernah pemain Arema disel di
Poltabes Balikpapan gara-gara berselisih paham dengan
penonton Persiba saat latihan. Gila kan? Mau tanding
besok, hari ini disel.

Ini belum kalau cerita soal wasit ditusuk di Wamena
atau hujan batu yang dulu sering terjadi di Ternate.
Kebrutalan suporter bukan monopoli tim dari Indonesia
Timur saja.

Sekali waktu, mas anshor juga boleh melihat langsung
kelakuandua kelompok suporter besar PSMS Medan, Smeck
(ini singkatan dari Suporter Medan Cinta Kinantan) dan
Kampak (singkatan dari Kelompok Anak Medan Pecinta
Ayam Kinantan). Mereka punya cerita yang agak unik.
Jika PSMS bermain jelek, mereka sebenarnya cukup fair
dengan memberi dukungan pada tim lawan.

Tapi soal kelakuan anarkis, jangan heran kalau mereka
sebenarnya sama saja dengan Bonek. Sepeda motor yang
parkir di halaman Stadion Teladan, tak bakal aman jika
PSMS kalah. Militansi mereka sama dengan Bonek. Polisi
dianggap musuh yang selalu bertindak kasar pada
suporter. Akibatnya, perang lempar batu kadang terjadi
dengan polisi di luar stadion.

Dan di Jawa, militansi anarkisme ala Bonek, bukan
mutlak punya suporter asal Jawa Timur, provinsi yang
menyumbang klub divisi utama paling banyak di Liga
Indonesia. Bergeser ke Jawa Tengah, anda akan dapati
permusuhan abadi antara suporter Panser Biru (PSIS)
dengan suporter Persijap Jepara. Rivalitas Joglo Semar
(Jogja, Solo, Semarang) jadi rivalitas, Panser Biru,
Pasoepati (Solo) dan Brojomusti (PSIM). Cermati saja
nama mereka. Nama-nama serem yang berhubungan dengan
kosakata “PERANG”. Jadi mas Anshor, saran saya, jangan
nonton di Stadion Mandala Krida kalau PSIM lagi
tanding lawan PSIS, terus anda dapat tiket di tribun
terbuka. Kecuali kalau anda ingin merasakan dilempari
batu.

Jawa Barat, lain lagi ceritanya. Tapi kalau bicara
bagaimana rasanya menonton di tribun terbuka Stadion
Siliwangi, baru anda bisa tidak menyalahkan anarkisme
Bonek semata dalam kasus kerusuhan di Tambaksari.
Kalau cermat membaca berita olahraga, tentu ingat
bagaimana Mayor Jendral (purn) I Gusti Kompyang
Manila, mantan kepala sekolah STPDN Jatinangor yang
juga mantan Manajer Persija Jakarta, kena lemparan
(maaf) tahi manusia dibungkus plastik yang tepat pecah
di kepala sang manajer. Bukan lagi batu, tapi tahi dan
kotoran manusia pula. Siapa pula pelakunya kalau bukan
suporter fanatik Persib.

Meski di Siliwangi, ada tiga kelompok suporter dengan
militansi yang berbeda-beda. Viking yang terkenal
paling militan dan tetap menjaga permusuhan dengan
suporter Persija (The Jakk) hingga saat ini, kemudian
ada Robocop, akronim dari Rombongan Bobotoh Kopo
(salah satu daerah di Bandung), Balad Persib, Jurig,
Superman dan nama-nama lain yang bakal anda temui
kalau duduk di tribun terbuka Stadion Siliwangi saat
Persib bertanding. Selain kotoran manusia tadi,
suporter Persib paling jago dalam soal lempar melempar
air kencing (manusia tentunya). Jadi kalau takut
terkena najis, ya jangan pernah nonton di Stadion
Siliwangi.

Bergeser ke Barat, Laskar Viola (suporter Persita
Tangerang) sampai sekarang tak pernah mau akur dengan
The Jakk. Jadi tiap kali Persita bertemu Persija, yah
jalanan di sekitar Stadion Benteng siap-siap saja jadi
ajang perang batu.

Sekali lagi mas Anshor, kebrutalan suporter di
Indonesia hampir mirip dengan korupsi. Terjadi
dimana-mana. Mengapa bisa terjadi, karena regulator
kompetisi macam PSSI dan Badan Liga Indonesia (BLI)
memang memeliharanya. Sanksi dari Komisi Disiplin
hanya biar mantes-mantesin aja. Dendanya, tak pernah
dilaporkan duitnya dipakai untuk apa dan disimpan di
rekening siapa. Korupsi??? Nah ini yang mestinya
dibongkar KPK, karena putaran nilai uang satu musim
itu mencapai triliunan rupiah.

Komisi Bandingnya? Mereka tak pernah bersidang. Yang
menentukan justru staf PSSI di komisi banding.
Akibatnya, setiap klub bisa melakukan negosiasi.
Kesimpulannya, kerusuhan suporter justru dipelihara
PSSI biar mereka punya kerjaan dan dapat penghasilan
sampingan.

Mas Anshor, bicara soal penggeledahan sebelum suporter
masuk, ritual ini adalah janji polisi sebelum
pertandingan dimulai. Ritual yang sama misalnya
diucapkan berulang-ulang oleh jajaran Poltabes Medan
tiap kali PSMS mau tanding di Stadion Teladan. Bahkan
mereka melarang tiap minuman kemasan dalam bentuk
botol masuk ke stadion. Tapi yah lemparan terus
menerus terjadi. Kalau enggak pake minuman kemasan
dalam bentuk gelas, yah serpihan dinding atau alas
tembok stadion.

Aparat ini kan menjaga sesuai dengan jatah uang PAM
yang diberikan panpel. Yah maklumi saja keterbasan
mereka jika di Stadion Tambaksari, beberapa di
antaranya malah suka menjual karcis masuk yang sengaja
tidak disobek. Tidak percaya? Mungkin bisa cross cek
dengan wartawan olahraga asal Surabaya yang aktif di
milis ini.

Konvoi di Jalan Darmo yang dilakukan Bonek dan
menerobos arus lalu lintas. Ini bukan monopoli
suporter fanatik Persebaya. Coba sekali-kali anda liat
Viking (yang motonya Persib ataoe Mati!) berkonvoi
tiap kali Persib usai bertanding. Kalau menang
konvoinya biasa-biasanya saja. Biasa dalam arti mereka
melanggar lalu lintas tapi tidak merusak properti
publik. Nah kalau kalah, pot kembang di Jalan Asia
Afrika tempat kepala negara di Asia Afrika jalan-jalan
waktu Konferensi Asia Afrika, rusak semua.

Bonek selalu dapat tudingan kesalahan dengan eskalasi
paling berat karena memang sejarah militansi mereka.
Namun sekali lagi militansi suporter bukan semata
milik Bonek.

Seperti pemerintahan di negara ini, PSSI juga tak
pernah punya kepastian hukum. Segalanya bisa ditawar.
Jangan heran kalau masuk jadi pengurus PSSI itu
rebutan. Pengurus yang tak kepake memaki pengurus yang
masih aktif, demikian juga nanti kalau yang sekarang
ga jadi pengurus, mereka juga gantian akan dimaki oleh
mantan pengurus. Sampeyan bisa cermati omongannya
Tondo Widodo (dia ini mantan Kabid Organisasi PSSI).
Mana ada suara Tondo yang bagus tentang kepengurusan
Nurdin Halid. Lah zaman Nurdin dulu masih jadi Manajer
PSM, dia paling kenceng nuding PSSI disogok biar
Bandung Raya juara Liga Indonesia.

Di PSSI gaji enggak ada (kecuali karyawannya), tapi
kalau arek suroboyo bilang, sripilannya gueeddeee rek!
Dimana sripilan itu bisa didapat, yah dari memelihara
kerusuhan suporter. Caranya, dengan tak pernah tegas
menegakkan pedoman dasar PSSI atau merubah sana-sini
aturan dasar berorganisasi. Cara lain, yah
kongkalikong dengan manajer atau pengurus klub.

Kembali ke suporter di Indonesia, beberapa kelompok
sudah meninggalkan polah kampungan mereka. Aremania
berada pada urutan pertama. Mereka terorganisir dengan
baik dan punya unit usaha yang bisa dibanggakan oleh
anggotanya. Kreativitas mereka nomor satu. Banyak
kelompok suporter belajar dari Aremania.

Tapi sekali lagi, Aremania bukan tanpa cacat. Main
lempar botol minuman masih kerap dilakukan mereka jika
Arema tanding lawan musuh bebuyutan seperti Persebaya
atau tim tetangganya, Persema Malang. Satu lagi kisah
nyata kebrutalan Aremania. Saat itu bertanding Persema
vs Persebaya di Stadion Gajayana Malang pada ajang
Piala Gubernur Jatim tahun 2005. Ada beberapa orang
suporter Persebaya yang nekat datang ke Gajayana. Di
tengah bertandingan, mereka yang tidak berulah ini,
tiba-tiba ketahuan sebagai suporter Persebaya.
Akibatnya, mereka hancur babak belur layaknya maling
yang tertangkap basah di pasar. Padahal beberapa di
antara mereka hanya murid SMP. Siapa pelakunya,
mungkin bukan Aremania, tetapi yang jelas suporter
asli Malang. Jadi Aremania sekali lagi bukan tanpa
cacat.

Setelah Aremania, dalam hal kreativitas dan
berorganisasi, harus diacungi jempol adalah The Jakk,
Viking, Pasoepati, Panser Biru, Persik Mania, Kampak
hingga Bonek. Kreativitas dan cara mereka
berorganisasi jempolan. Mirip organisasi kepemudaan.
Tapi kalau bicara anarkisme, mereka masih tetap
melakukannya.

Level berikutnya mungkin Mac’z Man, Laskar Viola,
Smeck, hingga suporter Sriwijaya FC, Semen Padang,
atau Deli Serdang. Mereka kreatif juga, tetapi
massanya tak terlalu banyak. Stadion Mattoangin bisa
penuh oleh Mac’z Man tapi kalau bertandang, jarang ada
suporter PSM ini yang mau ngikutin timnya.

Yang levelnya paling parah ya suporter Persekabpas.
Gimana ga parah kalau ke stadion bawa celurit. Bukan
hanya tim lawan yang dilempari mereka, tapi juga
wartawan foto yang meliput di pojok lapangan. Ngeri
kan? Berada pada level ini juga LA Mania. Mereka ini
suporter-suporter dadakan yang timnya tiba-tiba berada
pada tingkat paling elit kompetisi negeri ini. Nah
karena pantauan saya juga terbatas, mungkin kelompok
suporter di Indonesia Timur juga masuk ke level ini.

Oh ya mas Anshor, jangan sinis begitu ke Bonek dengan
mengatakan ga perlu bicara ilmiah dengan mereka. Saya
toh bondho nekat juga, tapi mau kok membuka ruang
diskusi dengan mas Anshor dan kawan-kawan milis ini.

Rivalitas keduanya tidak hanya hadir lewat kerusuhan dan peperangan, tetapi juga dengan nyanyian-nyanyian saat mendukung tim kesayangannya. Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti akan menyanyikan lagu-lagu yang menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci, Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-Bonek,Arema bondo duit ora Bondo nekat, Bonek gembel2 Surabaya dsb juga mereka kumandangkan kala Arema menghadapi tim lain di Stadion Kanjuruhan.

INI VERSI AREK SURABAYA..!!!!!


MSF

16 komentar:

  1. Kami SELALU DUKUNG PERSIP PEKALONGAN

    MENANG ORA UMUK
    KALAH ORA NGAMUK
    PERSIP SELALU DI HATI

    BalasHapus
    Balasan
    1. KATA-KATANE SNEX KOK DIANGGO?
      OPO RA ISIN?

      PERSIP IKU KEWAN OPO?
      SEJENIS ASU OPO CELENG?

      KALONG MANIA IKU OPO?
      SUPORTER KOK BANGGA NGANGGO JENENG KEWAN?

      Hapus
  2. bonek bukan perusuh....jika ada,tu oknum yang mengatas namakan bonek....bonek asli punya id card

    BalasHapus
  3. NICE COMMENT BOSS ! WAWASAN ANDA MANTAP MENGENAI SEPAKBOLA NASIONAL ...

    BalasHapus
  4. arema itu profokator , ak bonek cinta damai

    BalasHapus
  5. bonek cinta damai itu semboyane. tapi biang kerusuhan. sukanya maling pedagang., dasar munafik,.sangat pantas kalo logo ne boyo,.lha wong bermulut besar,. "SALAM PECUNDANG SURABASTARD" panitia pembubaran bonek

    BalasHapus
  6. Kita sama2 orang indonesia sblum membnahi suprter alngkah baiknya, kita betulin para pengurus2 PSSI dan sebangsanya. Jika PSSI n bangsnya bersih, toh suporter pun bsa ditata lebih terorganisasi,,ga ada lagi yg nmanya rebelisme,vandilisme,anarkisme,,satu jaw timur satu nyali jiwa peace!!!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. biarkanlah permusuhan ini abadi!

      Hapus
  7. SALAM SAKIT JIWA.......

    BalasHapus
  8. kita bangsa indonesia knp ada permusuhan,perbedaan segala sesuatu yg dipikirkan tdk secara matang persatuan dan kesatuan pasti hancur dimna sodara" kita yg kekurangan... harusnya kita manusia harus tw itu karna kita diciptakan untuk mati dan mati itu untuk iman kita diakherat nanti sadarlah sodara"..q...

    BalasHapus
  9. jadi semua ini bukan salah bonek ...... arema yang duluan mencari masalah dengan bonek ...... arema hanya sekumpulan supporter berumuran kecil yg ingin menjadi besar seperti bonek .... mereka iri dgn bonek , ....

    BalasHapus
  10. AREMA....AREMA....
    KITA DI SINI AREMAAAA....
    AREMA...AREMAA...
    KITA DI SINI AREMAAAAA.....


    # SALAM SATU JIWA #

    BalasHapus
  11. BONEK MANIA GEMBEL2 SURABAYA..DARI PADA DUKUNG PERSEBAYA LEBIH BAIK DUKUNG AREMA..BONEK JANCOOOOOOOOOOOK......DIBUNUH SAJA...

    BalasHapus
  12. Alah . . . Alaaahhh . . . BONEK MBACOT TOKK . BONEEEKKK JJJAAANNNNCCCOOOKKKKKKKKKKKKKKKKKK

    BalasHapus
  13. Satu Hati, Satoe NYali..
    WANI...!!!

    1933-1927

    Koen Kabeh kekean cocot cok..
    Jancokkkk..

    BalasHapus
  14. Bonek itu GOBLOK , GOBLOK itu bonek klo tidak GOBLOK itu bukan bonek !

    BalasHapus